Laman

Tampilkan postingan dengan label Magma: Skripsi Gue. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Magma: Skripsi Gue. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 November 2011

Bahasa Melayu Timur (parit enam)

Kabupaten Tanjung Jabung adalah salah satu Daerah Tingkat II di Provinsi Jambi.  Pada tahun 1999 dimekarkan menjadi Tanjung Jabung Barat Barat yang beribukota di Kuala Tungkal dan Kabupaten Tanjung Jabung timur yang beribukota di Muara sabak. Kabupaten ini terletak antara 0053' - 1041' Lintang Selatan dan antara 103023 - 104031 Bujur Timur. Wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur berbatasan dengan Laut Cina Selatan di sebelah utara, Kabupaten Muaro Jambi dan Provinsi Sumatera Selatan di sebelah selatan, Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Kabupaten Muaro Jambi di sebelah barat serta Laut Cina Selatan di sebelah timur. Luas wilayah administrasi Kabupaten Tanjung Jabung Timur adalah 5.445 Km2.
Kabupaten Tanjung jabung Timur dibagi menjadi beberapa kecamatan, yaitu Berbak, Dendang, Geragai, Kuala Jambi, Mendahara, Mendahara Ulu, Muara Sabak Barat, Muara Sabak Timur, Rantau Rasau, Sadu, dan Nipah Panjang.
Kecamatan Nipah Panjang sebagian besar penduduknya adalah suku Bugis. Padahal penduduk asli Nipah panjang adalah suku Melayu Timur. Pada tahun 1927 adalah awal masuknya pemukiman suku melayu Timur di Pantai galang, Nipah Panjang II. Awalnya hanya ada 15-20 Kepala Keluarga yang bermukim disitu dengan bermatapencaharian berladang, yaitu membuka hutan untuk ditanami tanaman pertanian atau yang biasa dikenal dengan Apok Gayoh. Pada tahun 1958 mulailah berdatangan masyarakat suku Bugis yang kemudian menetap di Nipah Panjang II, semakin lama semakin banyak warga pendatang dengan berbagai suku seperti Jawa dan Minang. Karena jumlah warga pendatang lebih banyak, masyarakat Melayu Timur pun mulai terkikis. Kini Nipah panjang lebih dikenal dengan Komunitas suku Bugisnya, bahkan jarang sekali ada yang tahu bahwa masih ada penduduk asli yaitu suku Melayu timur yang mendiami daerah tepi sungai. Terutama di daerah Parit Enam.
Di lihat dari bahasanyapun masyarakat Nipah panjang lebih dikenal dengan Bahasa Bugisnya, padahal masih ada penutur bahasa Melayu  yang semestinya menjadi kekayaan daerah Nipah panjang II dengan keunikannya seperti Bahasa Melayu di Parit Enam.
Bahasa Melayu di Parit Enam Kecamatan Nipah Panjang disebut dengan Bahasa Melayu Timur. Bahasa ini hampir saja terkikis oleh bahasa Bugis karena notabenenya masyarakat Melayu pun semakin sedikit yang masih menetap di sana. Karena itu Bahasa Melayu Timur di Parit Enam tidak dikenal banyak orang padahal Bahasa Melayu timur memiliki keunikan yaitu kebanyakan vokal a pada akhir kata berubah menjadi e  seperti “dimana?” menjadi “dimane?”, “mau kemana?” menjadi “nak kemane?”, dan sebagainya. Berbeda dengan Melaju Jambi dimana vocal a pada akhir kata berubah menjadi o seperti “dimano?”, “nak kemano?”, dan sebagainya.

Selasa, 08 November 2011

Parit Enam: Kajian dan Penelitia

Air… dimana-mana Air..itulah kesan pertama saat kita menginjakkan kaki di Parit Enam kecamatan Nipah panjang kabupaten Tanjung Jabung Timur. Rumah-rumah pun berdiri di atas air. Bukan karena tidak ada daratan, tapi memang Parit Enam ini adalah daerah rawa-rawa. Sebagian besar panduduknya menggantungkan hidupnya pada perahu dan jala, namun ada juga yang bertani dan berdagang.
Awalnya Parit Enam dihuni oleh warga Melayu Timur, namun sejak tahun 1988 mulailah berdatangan masyarakat dari daerah lain memenuhi Parit Enam bahkan hampir saja menggusur warga pribumi. Hingga kini mayoritas warga Parit Enam adalah warga Bugis dan Jawa. Bahkan tidak banyak yang tahu bahwa di Parit Enam masih terdapat warga pribumi, yaitu masyarakat melayu Timur. Saat ini warga melayu timur menempati wilayah depan atau pinggiran sungai. Satu yang unik dari masyarakat melayu timur adalah bahasanya. Jika biasanya kita mendengar orang melayu jambi bicara dengan mengubah vocal a menjadi o  pada akhir kata, maka jika Melayu Timur menggunakan vocal e  seperti “kite tak ade duit untuk pegi ke Jambi” atau “kate pak Amat, die nak besanding isok”, dan sebagainya.
Hal unik inilah yang memancing saya untuk meneliti lebih jauh tentang bahasa Melayu Timur di Parit Enam ini dan menuliskannya sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana (Skripsi) pada Program studi bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas jambi.
Tentu belum semua bagiannya yang akan saya teliti. Pada kesempatan ini saya akan meneliti Modalitas Epistemiknya. Modalitas Epistemik adalah sikap pembicara yang besifat subjektif yang menyatakan kesanksian, kepastian, dan kewajiban. Bagaimana bentuknya dan makna apa saja yang ditimbulkan dengan penggunaan modalitas tersebut.
Dan tentu saja skripsi saya akan saya persembahkan untuk keluarga dan para sahabat saya tercinta yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Teristimewa untuk nenek dan adik2 saya yang tiada henti memotivasi saya, juga satu orang spesial Irfan setiawan yang selalu sempat memberi senyum di sela kesibukannya. 
Demikian pengantar ini, semoga mendapat perhatian dari semua pihak. Diharapkan bantuan dan partisipasinya dalam pelestarian bahasa daerah. Khususnya tentang modalitas epistemik  Melayu Timur di Pari Enam.